MENGHADIRKAN PERADABAN MADANI DI KAUMAN

Disusun Oleh : Adib Ubaidillah Hasan
PP. ABDUSSALAM-KOTA BATU-JATIM

Maraknya maksiat merupakan bukti makin merosotnya akhlak. Makin sengitnya peperangan di Timur Tengah hingga beberapa negara di Afrika serta menjalarnya Terorisme berlabel Islam (ISIS, al-Qaeda,dll) bukti makin mundurnya peradabaan Islam. Begitu pula mewabahnya aliran-aliran sesat di berbagai daerah merupakan bukti suburnya ideologi Sekulerisme, Pluralism dan Liberalisme (Sepilis).

Bagaimana peran Masjid terkait kondisi di atas ?
Jawab :        
Menghadirkan peradaban Madani di Kauman Masjid-Masjid dimulai dengan Gerakan MASTRA MULIA (MASJID SENTRA PEMULIAAN), Sosial-ekonomi

Apa Dasar Empirik-nya?
Jawab :
Alquran Surat al-An’am ayat: 165 dan hadist riwayat Muslim dan Abu daud tentang kwalitas ibadah

PERADABAN MADANI
Puncak peradaban Islam bukan hanya memuncaki Peradaban Akhlaq (etika dan moralitas), karena mereka non-muslim pun berpendapat serupa.
Bahkan kaum sekuler dan liberalis berpendapat bahwa etika dan moralitas itu dapat dihasilkan oleh kecerdasan akal dan pikiran serta kesepakatan social-demokratis.
Hal ini terbukti dengan dipopulerkannya Program “Global Ethics” yang sekuler dan pluralis dalam area penyebaran isu-isu global meliputi: HAM, Demokrasi berakar pada Hadits-Hadits yang telah diplintir “uraian dan komentarnya”, sehingga Nampak Islami, dan Nampak tidak bertentangan dengan syariat… Padahal setelah ditela’ah secara cermat, tau sendirilah antum.
# Sekulerisme promoting Global Ethics…

Bagaimana solusinya dan darimana memulainya ?
Pertama:
Perlu dipahami oleh Ummat bahwa Peradaban Islam adalah “Sistem kesepakatan yang diamalkan berdasarkan Niat sholihah untuk memurnikan setiap Ibadah Sosial yang langsung meng-interaksikan masyarakat Muslim dengan non-Muslim berdasarkan al-Qur’an dank e-tiga tipe Sunnah Rasulullah,SAW (Qouwliyyah, Fi’iliyyah dan Tahreriyyah) secara adaptif sesuai kultur local sehingga akan menyuburkan “ akhlaq dan kepribadian ummat di setiap local” dan tekun meraih prestasi dalam Ibadah Ritual dan Ibadah Sosial (al-hadharah al-fadhilah).

Jadi, mewujudkan Ibadah berkualitas dan maslahah bukan sekedar berlomba-lomba banyak-banyakkan Ibadah (ritual) hingga melupakan Ibadah Sosial yang dipusatkan pergerakkan dan programnya itu di Masjid-Masjid…

Bukankah dengan tersedianya Teknologi software Google Map, J2SE, android, Playstrore dst akan lebih memudahkan DKM dalam mengelola ZIS, Program-program Santunan Dhu'afa, hingga perbaikan saluran drainase atau bahkan bedah rumah serta Jual-Beli Rumah, Kontrakan, dst?

Bukankah dalam suatu Hadits, Rasulullah,SAW telah mem-warning kita secara tegas:
“Kalian akan seperti buih dan sampah yang dibawa oleh aliran air yang deras dan Allah akan mengambil rasa takut dari dadamu tentang musuh-musuhmu, kemudian memasukkan kelemahan mental dan Akhlaq ke dalam dadamu (H.R Abu Dawud)
Bukankah pada periode awal di Makkah, kepada Baginda Nabi, SAW telah ditawarkan oleh pembesar Qurais, berupa gelimang duniawi, istana, wanita-wanita, dst..?
Tapi semua itu ditolak oleh beliau,SAW dengan jawaban:
“Innama buitsu li-utamimma makarim al-Akhlaq”

Kemudian oleh Imam Ibnu Khaldun (1.406 M) dalam Kitab Muqodimmah Juz 1 halaman 249-310 menyatakan: “Bangkit dan runtuhnya Peradaban Islam ber-akar pada kekuatan kualitas Ruhani dan Akhlaq para pemegang kunci Kepemimpinan”..

Sementara itu tak kurang dari 17 ayat dalam al-Qur’an telah memperingatkan dengan KERAS tentang bahaya perkembangan Sains Sekuler dan Materialisme yang amat cepat dan masiv melemahkan kekuatan Akhlaq dan Rohani”…

Dan se-abad kemudian
Imam Jalaludin as-Suyuti (1.505 Masehi)  dalam Kitabnya “Tarikh al-Khalifah” menyatakan: “Sejak Pemerintahan Sahabat Abu Bakar,RA (634 M) hingga Abdul Azis al-Mutawakkli alaLLAH (1.497 M), khalifah terakhir Dinasti Abbasiyyah merinci kualitas Ruhani Akhlaq, Intelektual dan Budaya setiap Pribadi-pribadi mereka yang mencakup ( Pemimpin, Cendekiawan hingga Militernya).

Tentang Sains dan Teknologi , maka dapat dipahami sebagai Alat Bantu/ Sub-sistem yang mampu membereskan berbagai ketimpangan (SOSEK, Tarbiyyah, Dinieyyah hingga Aqidah).

Bukti modernitas Sekuler yang diusung oleh Non-Muslim kiri semakin jelas dengan makin maraknya Krisis Kemanusiaan ditandai berbagai pembantaian oleh Milisi Syiah Houti, Boko Haram, membanjirnya pengungsi Suriah ke berbagai Negara-negara Eropa hingga Krisis Ekonomi yang membangkrutkan Perekonomian Negara Yunani, Portugal.

Bahkan China yang dipuja sebagai Negara dengan Pertumbuhan ekonomi tertinggi pun kini sedang disibukkan untuk menangani “Tantangan Ekologisnya” akibat pesatnya kemajuan Industrialisasi ke Desa-desa hingga alam sekitar mereka rusak, dan “Peradaban Ekologis Negara China pun kini dilanda Banjir, Longsor, dst…

Inilah bukti Kemajuan ala Sekuler yang menihilkan TUHAN (Allah,SWT)
Islam mengajarkan “Ayyukum ahsanu ‘Amala” yang memotivasi ummat agar berprestasi dalam memperbaiki Ruhaniah, Akhlaq secara Bathiniah berupa “ Jangan mendatangkan kerusakan di muka bumi, akibat serakah untuk menumpuk kekayaan.. Hal ini untuk memperoleh kebahagiaan
Usulan solusinya :
Jawab :
Jajaran DKM berkomitmen untuk menghadirkan Peradaban Madani yang mencakup rangkaian proses pemuliaan akhlaq, pengagungan ibadah rohaniah, peningkatan ukuwwah, pemberdayaan Sosek dan pembentangan prestasi Iptek.
Dipahami bahwa: “Puncak peradaban islam terjadi di jaman Madani ketika di Kawasan Masjid nabawi menjadi pusat perwujudan berbagai prestasi besar dalam Babul ke-ikhlasan, mujahhadah, ukuwwah pengamalan sifat-sifat (Islam rahmatan lil alamin) dan ruh Islam (Toleran, Kooperatif, Tegas, Ikhlas dalam setiap perbuatan) yang kesemuanya itu bertujuan terfokus pada meng-istiqommah-i hal-hal pokok (esensial) dan hal-hal potensial bersumber pada Al-quran dan ketiga Sunnah di-alam kewujudan.

Darimana memulainya ?
Jawab : DKM mempelopori jama’ah  untuk meng-eksplorasi hal-hal pokok dan potensial dalam al-Qur'an dan Hadits yang secara bertahap dapat meraih:
Berprestasi dalam Ibadah dan Ilmu
Menjadi Pelayan Alloh
Mengamalkan Ukuwwah (Islamiyyah, Bashariyyah dan Insaniyyah) Bisa dimulai dengan Membentuk majlis-Majlis dzikir pada hari tertentu ber-dzikir bersama. Apa saja manfaatnya?
Jawab:
Kondusivitas pemajuan Iptek: Memanfaatkan software-software di www.sourceforge.net untuk melayani kebutuhan Jama'ah dalam bidang Perumahan, Kost-Kostan, Perdagangan On Line, dst

Islamisasi Budaya luhur
Penjelasan:

1. Berprestasi dalam  Ibadah dan Ilmu
Kewajiban berprestasi dasarnya Al-Quran surat : Al-Mulk, ayat : 2
Diktum Q.S al-Mulk ayat:2 lebih ditujukan pada Kualitas Ibadah dalam dimensi ke-Ikhlasan, Akhlaq dan Kepedulian Sosial. Hal ini tentu membedakan secara praktek dan tujuan dengan faham Sekuler, dimana pemahaman akan Prestasi merupakan kemajuan dalam dimensi duniawi semata, dengan slogannya “Prestasi dalam berkarya merubah kemajuan dan merubah kemajuan akan menciptakan harapan-harapan baru (optimisme)”.

Untuk berprestasi dalam Ibadah dan Ilmu perlu ditempuh melalui Majelis Taklim Kitab Kuning yang membangun empat (4) kompetensi, meliputi :
Berpikir kritis dalam mengurai persoalan (lihat : islamuna.info)
Pembelajaran kreatif : MTQ (musabaqoh tilawatil Qutub)
Komunikatif : TV, Radio, Buletin, Media social)
Kompak Kerjasama : Amal ma’ruf Nahyi Munkar

2. Menjadi Pelayan Alloh (Kaidah melayani dan menjadi pelayan)
MELAYANI wajib memiliki kepercayaan atas nilai-nilai ke-Islaman sebagai pondasi mengamalkan rasa syukur atas karunia nikmat sehat, kelapangan jiwa, peluang meningkatkan iman dan berperan sosial guna meningkatkan semangat beribadah.

Menjadi pelayan Alloh dapat diwujudkan dengan menempa diri menjadi insan yang aktif berjamaah, sehingga menumbuhklan etos ibadah dan kwalitas pelayanan islam.

3. Mengamalkan Ukuwwah
Mengamalkan ukuwwah dimulai dari komitmen untuk menyajikan kemaslahatan yang amat diperlukan oleh ummat islam di-satu wilayah.
Membangun komitmen untuk menyajikan kemaslahatan yang amat diperlukan ummat Islam di-satu wilayah.
Mendefinisikan sifat dan ruh islam dalam kriteria ruhaniah dan teladan akhlaq sebagaimana digariskan Sunnah-sunnah Fi’illiyah.
Pencapaian ukuwwah merupakan kesempurnaan akhlaq dan  budi pekerti ummat sesuai kebutuhan jaman hingga akhir jaman.

4. Kondusifitas Pemajuan Iptek
Iptek merupakan sub-system peradaban yang mampu membereskan berbagai ketimpangan (Ibadah, Sosek, Pendidikan dan Dakwah).
Karenanya, Iptek hendaknya dimanfaatkan pada pencapaian istiqommah beribadah, peningkatan sosial ekonomi, pemerataan distribusi zakat, infaq, sodaqoh. Diketahui jikalau yang ditonjolkan hanyalah prestasi duniawi dan kehebatan keilmuan semata  tanpa meningkatkan  pemberdayaan kaum dhua’fa maka itu hanyalah kehebatan hasrat manusia semata (Jaahun).
Dipahami bahwa peradaban madani bukan hanya peradaban akhlaq semata, melainkan perwujudan dari sistem dan komitmen yang diamalkan secara istiqommah dilandasi niat memakmurkan islam dan ummatnya berdasarkan Al-Quran beserta ketiga bentuk Sunnah Nabi SAW ( al-haa doroh wal fadhilah [sumber : kitab, tarikh al-khalifah juz : 3, hal : 497, imam Jalaluddin as-Suyuti,rah])
Tantangan Iptek :
Tak kurang tujuh ayat dalam Al-Quran memperingatkan secara keras akan bahayanya perkembangan iptek sekuler dan etika global dibungkus HAM dan Demokrasi sehingga nampak islami yang justru amat cepat melemahkan kekuatan akhlaq dan ruhaniah.
Bukti kegagalan modernitas iptek sekuler yang dipelopori oleh non-muslim sejak era tahun 1900-an menghasilkan krisis ekonomi, energy dan pangan, ekstrimitas sosial, padahal AL-Quran melarang “jangan mendatangkan kerusakan dimuka Bumi dan cinta dunia”
Caranya :
Bekerja, berkreasi adalah ibadah. Prioritasnya adalah keikhlasan dan ketundukan

5. Islamisai Budaya Luhur
Terpatrinya budaya (Sepilis) menyuburkan Egoisme dan Hedonisme sekaligus menghancurkan budaya,  seperti gotong royong, tenggang rasa, kepedulian sosial dll.
Budaya-budaya Arab yang belum tentu Syar’I justru memicu tranformasi kultural bukan pada hal-hal Esensial (kwalitas ibadah), malah justru merusak tatanan sosial. Karena itu  perlu penyebarluasan ayat-ayat dan hadist yang menjunjung tinggi keragaman dalam kesatuan dan kesatuan dalam keragaman, sehingga menggugah budaya pemberdayaan social, peningkatan etika dan moralitas bernilai ibadatullah sekaligus “Immaratu al ardi” yang memicu kesadaran kritis ummat untuk mengejar ketertinggalan dalam berbagai hal.

Caranya :
DKM Membentuk Klub-klub Tahsin, Nahwu, Animasi, Software Transaksi (beli tiket, bayar listrik, dst) serta Majlis Taklim dll di lingkungan masjid, untuk penguasaan bahasa islami, budaya, etika dan moralitas, sekaligus memperbaiki orientasi dan kemampuan budaya MADERAH (masa depan cerah)
MOTIVASINYA !!!
“ Akhoru hammalatul  ’ilmi fil islam al-azam”
Maksudnya ini INDONESIA-kah ???
Islamisasi Budaya luhur bertujuan untuk memajukan peradaban islam mendekati puncaknya yakni peradaban madani.
Membentangkan kerjasama pelayanan kaum dhua’fa (pembinaan sosial ekonominya) bekerjasama dengan kelompok IBG (intelektual, bisnis and goverment) untuk meraih hal-hal tepat sasaran dan tepat penerima manfaat programnya
Budaya luhur dalam Islam semakin mempererat kwalitas dan keragaman bentuk kerjasama dibidang pangan, pemurnian akidah dan sterilisasi dari berbagai gerakan aliran sesat seperti: AHMADIYYAH, SYI'AH, LDII, SALAFY, NEO KHAWARIJ dan Majlis Tafsir al-Qur'an..

0 Response to "MENGHADIRKAN PERADABAN MADANI DI KAUMAN"

Posting Komentar